Bagian pertama
Kyokushin Karate : Penyempurnaan tiada akhir.
Oleh : Silvester Sebastian.
Ketika kita mendengar nama Kyokushin karate, akan terbayang sosok seorang pemuda bertubuh kekar berotot, Masutatsu Oyama, pendiri Kyokushin karate, sedang menghadapi pertarungan dengan seekor banteng jantan, menahan serudukan sang banteng dengan kedua tangan, menahan sebentar dan menekannya kebawah, dengan cepat melancarkan sebuah pukulan geledek seiken gedan tsuki yang nyaris tidak terlihat oleh mata (karena kekuatan dan kecepatannya), tepat ditengah-tengah kedua mata banteng, dan terdengar suara derak gemeretak tulang yang remuk, terkena kento ( bagian terkuat dari kepalan tangan yang terbentuk dari pangkal ruas jari telunjuk dan jari tengah, dimana kekuatan tenaga dalam yang bersumber dari tanden memancar ), serta menghabisinya dengan jurus shuto mawashi hizo uchi ( pisau tangan yang terbentuk dari tulang terusan jari kelingking yang sangat keras ), bagai kilat yang menyambar memotong tanduk sang banteng, badan sang banteng bergetar hebat dan mencoba bertahan, lalu jatuh bersimpuh tiada daya diantara keempat kakinya, serta merebahkan kepalanya dengan diiringi oleh lenguhan panjang meregang nyawa!
Kyokushin Karate : Penyempurnaan tiada akhir.
Oleh : Silvester Sebastian.
Ketika kita mendengar nama Kyokushin karate, akan terbayang sosok seorang pemuda bertubuh kekar berotot, Masutatsu Oyama, pendiri Kyokushin karate, sedang menghadapi pertarungan dengan seekor banteng jantan, menahan serudukan sang banteng dengan kedua tangan, menahan sebentar dan menekannya kebawah, dengan cepat melancarkan sebuah pukulan geledek seiken gedan tsuki yang nyaris tidak terlihat oleh mata (karena kekuatan dan kecepatannya), tepat ditengah-tengah kedua mata banteng, dan terdengar suara derak gemeretak tulang yang remuk, terkena kento ( bagian terkuat dari kepalan tangan yang terbentuk dari pangkal ruas jari telunjuk dan jari tengah, dimana kekuatan tenaga dalam yang bersumber dari tanden memancar ), serta menghabisinya dengan jurus shuto mawashi hizo uchi ( pisau tangan yang terbentuk dari tulang terusan jari kelingking yang sangat keras ), bagai kilat yang menyambar memotong tanduk sang banteng, badan sang banteng bergetar hebat dan mencoba bertahan, lalu jatuh bersimpuh tiada daya diantara keempat kakinya, serta merebahkan kepalanya dengan diiringi oleh lenguhan panjang meregang nyawa!
Selain itu, Kyokushin karate juga terkenal dengan metode latihan-latihan fisik yang keras, disiplin yang spartan, serta sistim pertarungan full contact knock down ( pukul dan tendang langsung tanpa pelindung, nilai dihitung jika pukulan dan tendangan yg masuk memberi efek kesakitan, TKO atau KO ), maka tak pelak lagi, terbentuklah image Kyokushin karate sebagai perguruan seni bertarung yang keras, bahkan oleh sebagian orang yang tidak mengerti tentang Kyokushin karate, diberi label : brutal dan sadis!
Apa benar Kyokushin karate itu brutal dan sadis? Sebagai orang yang dibesarkan di Kyokushin karate sejak tahun 1973, melalui tulisan ini, saya ingin memaparkan, apa itu Kyokushin karate, sehingga kita bisa mengerti dan memahami dengan benar tentang Kyokushin karate, apa saja visi & misinya yang luhur, serta nilai-nilai berharga yang terkandung, yang amat sangat dibutuhkan & bermanfaat bagi kita semua, terlebih bagi generasi muda, ditengah-tengah krisis & erosi, baik sosial maupun budaya, sehingga bisa menjadi secercah suar, bagi pencarian jati diri generasi muda dan bangsa!
Bundo & Budo : metode pendidikan yg menyempurnakan.
Ditengah-tengah belantara seni “ bela diri “ di tanah air, yang sedang bergairah menjadikan seni “ bela diri “ sebagai insitusi olah raga, prestasi, seni hiburan dan seni pertunjukan, bahkan dijadikan sebagai alat untuk mengumpulkan uang, Kyokushin karate adalah satu-satunya perguruan yang masih konsisten mempertahankan nilai-nilai luhur dan berharga dari seni bertarung kuno, yaitu : Budo ( jalan perang/pertarungan ).
Budo sebenarnya adalah sebuah metode pendidikan, pada jaman dahulu ada dua metode pendidikan yaitu: Bundo & Budo, Bundo adalah sebuah metode pendidikan yang berbasickan iptek ( kognisi ), sedangkan Budo adalah sebuah metode pendidikan kejiwaan yang berlandaskan olah raga ( afeksi & psycho motoric ), atau yang lazim disebut sebagai character building! Jika bangsa Tiong Hoa mengatakan Wen Wu shuang quan ( kedua metode akan menyempurnakan ), maka bangsa Jepang mengatakan Bun Bu ichi ( kedua metode tidak bisa dipisahkan )! Kedua metode ini memiliki kelebihan dan tentunya juga kelemahan, jika Bundo itu terlalu lunak, sehingga tidak bisa tegak, maka Budo itu terlalu keras , sehingga mudah retak! Penyatuan kedua unsur keras dan lunak, akan melahirkan unsur yang lentur! Jadi jelas sekali bahwa : perpaduan kedua metode pendidikan ini akan saling mengisi dan menyempurnakan, dan melahirkan generasi-generasi yang cerdas, sehat dan perkasa, memiliki karakter sbb : moral yg mulia, pekerti yang luhur, mental yang kuat, semangat yang tinggi, serta menguasai seni berperang/bertarung yang mumpuni! Tak pelak lagi, itulah yang disebut sebagai watak pendekar/satria! Atau kalau mau disebut dengan lebih jelas lagi, itulah metode pendidikan calon-calon pemimpin! Peminpin-peminpin yang tidak haus kekuasaan dan kemaruk dengan uang!
Jika kita mempelajari kebesaran sejarah bangsa Tiong Kok yang telah berusia 5.000 tahun, keberhasilan mereka tidak lepas dari pemahaman dan kesadaran mereka tentang pendidikan, sedangkan bangsa Jepang baru bangkit pada jaman dinasti Tang ( tahun 618 – 907 ), setelah mereka seratus persen mengambil alih seni, sosial, budaya, politik, ekonomi, teknologi dan agama yang berlaku di dinasti Tang, ( bahkan huruf Han yu pun dicopy ), setelah itu mereka melakukan pembaruan dan pengembangan sesuai dengan kondisi dan tradisi Jepang, dan menjadikan Jepang sebagai negara yang kuat dan maju pada jaman itu!
Jika kita melihat kemajuan kedua bangsa saat ini, ditengah-tengah dominasi absolut negara barat dalam percaturan dunia, baik sosial, budaya, politik, ekonomi, teknologi, dan militer, mereka ternyata mampu menembus dominasi dan blokade dunia barat, dan berhasil mensejajarkan diri, dengan negara-negara super power didunia, baik secara ekonomi, teknologi, maupun militer, pada bulan Oktober tahun 2007, Tiong Kok dengan cadangan devisa sebesar 1,433 trilyun US dollar, menjadi negara pemilik devisa terbesar no. 1 didunia, diikuti Jepang pada urutan kedua dengan cadangan devisa sebesar 945,6 milyar US dollar.
Jika Jepang yang hancur lebur setelah dibom atom oleh Amerika Serikat pada tahun 1945, dan dibebani oleh hutang pampasan-pampasan perang yang sangat besar, hanya dalam waktu yang relatif singkat, kurang lebih 20 tahun, mampu bangkit, tumbuh & berkembang menjadi negara maju & kuat ekonominya, serta mampu mensejajarkan diri dengan Amerika Serikat & negara-negara barat lainnya (pada hal Jepang adalah negara yang sangat miskin sumber daya alamnya!).
Maka Tiong Kok adalah negara di Asia pertama yang berhasil membuat bom atom pada tahun 1965, meluncurkan satelitnya pada tahun 1970, dan negara ketiga didunia yang mampu mengirimkan antariksawan keluar angkasa pada tahun 2003 , bahkan jika melihat pertumbuhan ekonomi dan teknologi yang begitu pesat dan konsisten dari Tiong Kok pada dekade ini, maka bukan tidak mungkin, Tiong Kok akan menjadi negara super power no. 1 didunia, dalam tempo paling lama 20 tahun lagi!
Kita juga bisa menyaksikan, bahwa negara disemenanjung Asia dan Asia tenggara, yang mendapat pengaruh budaya dari Tiong Kok, baik secara langsung atau tidak langsung, seperti Korea selatan, Vietnam, Singapura, dan Muangthai, juga beberapa wilayah khusus dari RRC, Makao, Hongkong Dan Taiwan, juga telah bangkit dan berkembang menjadi negara yang stabil ekonominya dan kuat militernya!
Keberhasilan mereka jelas tidak lepas dari keseriusan & kesungguhan mereka terhadap pendidikan, serta pemahaman dan implemensi secara tepat kedua metode pendidikan ( Wen/Bun, dan Wu/Bu ) kedalam kurikulum pendidikan nasional mereka!
Untuk lebih memahami kedua metode pendidikan, khususnya Wu / Budo, saya akan memaparkan lebih lanjut bagi anda.
Hukum alam.
Segala sesuatu yang ada dalam kehidupan dibumi ini, terikat oleh hukum alam, yaitu : hukum Yin & Yang, atau hukum positif & negatif, ada Yin, pasti ada Yang, ada positif, pasti ada negatif! Jadi jika ada yang baik, pasti ada yang buruk, jika ada yang benar pasti ada yang salah! Kita tidak mungkin berada diluar hukum alam ini, karena jika tidak ada unsur yang negatif, bagaimana kita tahu unsur yang positif? Jika tidak pernah melihat warna hitam, bagaimana kita bisa mengenal warna putih? Didalam diri kita, juga terdapat kedua unsur tadi, misalnya : esensi dari fisik kita adalah manja & ulet, perasaan adalah bosan & setia, hawa napsu adalah serakah & nrimo, pekerti adalah rendah & luhur, semangat adalah tinggi & rendah, sedangkan dari sisi moral adalah kotor & mulia!
Seperti yang kita ketahui, bahwa diri kita ini terdiri dari fisik, perasaan, dan hawa napsu, interaksi ketiga unsur tersebut akan menimbulkan pikiran, semangat, dan pekerti, baik atau buruknya moral kita, ditentukan oleh kemampuan kita menguasai fisik, menahan perasaan, membelenggu hawa napsu, membangkitkan semangat, dan mengendalikan pekerti, kemampuan tersebut disebut mental!
Budo ( pendidikan psycho motoric ).
Budo adalah metode pendidikan yang berbasickan disiplin yang spartan, serta latihan-latihan fisik yang keras , untuk menumbuhkan mental “ hidup atau mati “.” membunuh atau dibunuh “, “ menghadapi kematian seperti pulang kerumah “,” wajah tidak berubah, hati tidak bergetar ”, “ menyongsong kematian dengan senyum “, “ 20 tahun lagi akan terlahir sebagai seorang pemuda/reinkarnasi “, mempelajari strategi-strategi dan teknik-teknik perang/bertarung, melatih ketrampilan membunuh lawan, baik dengan tangan kosong, maupun senjata, untuk memenangkan peperangan/pertarungan dengan cepat, serta mencapai tingkatan “ ichi geki hi satsu/membunuh dengan satu pukulan “! Serta mengobarkan semangat “ membalas dendam seluas lautan darah yang tak bertepi, menuntut kesumat sedalam jurang yang tak berdasar! “, yang akan terus menyala & berkobar sampai akhir hayat!
Jelas dan gamblang, sedikitpun tidak ada unsur peri kemanusiaan dalam doktrin-doktrin budo, yang ada hanya kebrutalan, sadis dan barbar, bahkan penumpasan ras, seperti yang terekam dalam sejarah umat manusia!
Jadi tidak bisa dibantah lagi, bahwa Budo akan melahirkan budaya kekerasan yang menimbulkan tragedi kemanusiaan, seperti kesalahan yang dilakukan oleh bangsa Jepang pada perang dunia ke 2, karena kekeliruan yang amat fatal didalam menterapkan pendidikan Budo, akhirnya berkembang menjadi negara “ militerisme “ yang sangat agresif dan expansive, sehingga menimbulkan penderitaan dan bencana, bagi bangsa-bangsa di Asia dan Asia tenggara khususnya, seluruh bangsa-bangsa didunia umumnya, serta akhirnya membawa mala petaka dan kehancuran bagi bangsa Jepang sendiri!
Masih belum pupus dari ingatan kita, serentetan peristiwa kekerasan yang terjadi dikampus IPDN Jatinangor, yang telah merenggut nyawa secara sia-sia beberapa prajanya, juga kasus-kasus kekerasan lainnya, baik secara fisik maupun psykis, yang terjadi di sekolah-sekolah menengah pertama & atas, maupun perguruan-perguruan tinggi dinegara kita, baik yang dilakukan oleh para guru maupun siswanya, dengan dalih perploncoan & disiplin, yang telah menjadi budaya dilingkungan pendidikan kita, dikarenakan ketidak pahaman mereka, serta secara statis & dogmatis mengadopsi metode pendidikan militer, akhirnya malah terimbas sisi negatif dari metode tersebut, serta menimbulkan korban-korban, yang semestinya tidak perlu terjadi!
Sesuai dengan hukum alam, perang dan kekerasan tidak mungkin dihapus dari muka bumi! Karena perang & damai, kekerasan & kasih, adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan! Seperti beberapa adagium yang sangat terkenal didunia, yaitu : “ jika kita menginginkan perdamaian, maka kita harus siap berperang! “, “ kasih tanpa kekuatan adalah ketidak berdayaan, sedangkan kekuatan tanpa kasih adalah kekerasan!”. Hanya jika kita telah mengalami penderitaan & tragedi yang diakibatkan oleh perang, kita baru bisa menikmati ketenteraman & kebahagiaannya perdamaian! Demikian juga jika kita telah merasakan kepahitan yang ditimbulkan oleh kekerasan, kita baru bisa menghargai manisnya kasih! Itulah hukum alam! Itulah hukum peradaban umat manusia!
Bahkan ketika peradaban umat manusia sudah memasuki abad 21 ini, Budo tetap tidak bisa dihapuskan dari sejarah umat manusia, tradisi Budo masih diajarkan dan dilestarikan disekolah-sekolah militer diseluruh dunia, selain doktrin-doktrin dan strategi-strategi perang, mereka juga mengembangkan senjata pemusnah masal yang sangat sadis dan mengerikan bagi peradaban umat manusia, bahkan mengancam kelestarian umat manusia, yaitu : senjata kimia, biologi, dan nuklir! Tidak ada bangsa dimuka bumi ini, yang tidak terus memoderenisir angkatan perangnya, dengan teknologi-teknologi yang mutakhir, serta peralatan-peralatan perang yang makin canggih, baik darat, laut & udara, bahkan antariksa! Kedamaian setiap saat bisa sirna dalam sekejab, perang setiap waktu bisa terjadi disetiap pelosok dunia! Demi mempertahankan perdamaian, mereka siap berperang! Sungguh-sungguh absurd bukan?
Kita juga bisa melihat, meski peradaban umat manusia makin maju, walau manusia makin berbudaya, tetapi tragedi-tragedi kemanusiaan, masih saja terus terjadi diberbagai sudut dimuka bumi! Seperti yang terjadi ditanah Palestina, Libanon, Afrika, Afganistan, Irak dll, yang tidak bisa kita mengerti adalah, mereka yang melakukan justru bangsa-bangsa yang selama ini selalu menyatakan dirinya sebagai bangsa yang paling berbudaya, bangsa yang paling menjunjung tinggi hak asasi manusia dan demokrasi! Dan yang paling menggelikan adalah mereka melakukannya tanpa merasa bersalah & berdosa dengan dalih ham & demokrasi!
Demikian juga dengan kekerasan dalam masyarakat, meski manusia makin beradab, walau Sang Maha Pencipta berapa ribu tahun yang lalu, telah menurunkan firman-firman dan ajaran-ajaran Nya, agar umatnya bisa hidup rukun berdampingan dengan penuh kasih & damai, meski pemerintah-pemerintah yang berkuasa, beberapa abad yang silam telah mensahkan undang-undang baik pidana maupun perdata, lengkap dengan sangsi-sangsi hukumnya, serta menyediakan penjara bagi warga yang melanggarnya, baik sengaja maupun tidak sengaja, tetapi kekerasan baik fisik maupun pyskis, dengan latar kriminal, budaya, suku, agama, ras, antar golongan, dan paham, masih saja terus terjadi diseluruh penjuru dunia, dimana ada umat manusia yang menghuninya! Bahkan saling bertukar pandang dijalanpun, bisa mengundang maut! Itulah kenyataan yang sangat getir dari hukum alam! Perang dan kekerasan, tidak akan pernah bisa dihapuskan dalam kehidupan, kecuali terjadi kiamat pada peradaban umat manusia!
Tidak bisa dibantah lagi, bahwa Budo akan membuat kita menjadi kuat, tetapi jika kita tidak menyadari sisi negatifnya, kita akan terperangkap pada sisi kekerasan yang amat sangat destruktif! Bagaimana agar kita tidak terimbas pada sisi negatif dari Budo? Para filsuf-filsuf Tiong Kok kuno, seperti Lao Zi, Mo Zi, Zhuang Zi, Kong Zi, Sun Zi dll, telah menyadari tentang sisi negatif dari metode Wu/Budo, untuk mengeliminir efek negatif dari budo, mereka mengajarkan ajaran-ajaran budi pekerti & moral, serta ajaran-ajaran yang berbasickan hukum alam, atau yang sering disebut sebagai Chan/Zen!
Chan/Zen ( pendidikan afeksi ).
Chan atau Zen adalah metode pendidikan kejiwaan dengan tujuan menghaluskan dan menyempurnakan jiwa kita, ada dua metode dari Zen, yaitu Zen yang aktif atau Zen dalam gerak, misalnya : menulis/kaligrafi, melukis/sumi’e, puisi/haiku, opera/noh, menggunting kertas/origami, minum teh/cha no yu, merangkai bunga/ikebana, bonsai, suiseku, kendo, karate, aikido, yudo, qi gong ( ilmu tenaga dalam ), wushu dll, sedangkan Zen yang pasif atau diam disebut Zazen, misalnya: meditasi dalam posisi berdiri, duduk, bersila, berlutut, berbaring, mengolah napas, serta ritual-ritual keagamaan!
Falsafah yang menjadi basic dari Zen adalah alam, jadi Zen tidak memiliki bentuk yang pasti, sehingga Zen itu bisa apa saja, dimana saja, siapa saja, kapan saja, bisa dijadikan Zen untuk mencapai kesempurnaan rohani!
Zen itu ada disekitar kita, berada dalam kehidupan kita, dan bersemayam didalam alam, jadi Zen itu bisa tanah, bisa air, bisa api, bisa angin, bisa kayu, bisa juga logam, bahkan jalan raya ( yang telah berubah menjadi hutan rimba belantara dengan hukum rimbanya )! Zen itu bisa tukang sampah, tukang becak, kuli panggul, pembantu rumah tangga, juru kunci, guru, sopir, seniman, pedagang, atau pejabat-pejabat sipil maupun militer! Seluruh profesi baik yang dianggap “ halus, bersih & terhormat “, atau yang “ rendah, kasar & kotor “, semuanya adalah Zen, didalam Zen tidak ada perbedaan, didalam Zen semua sama! Yang membedakan Zen adalah tujuan, jika tujuannya untuk menghaluskan & menyempurnakan diri, itulah Zen yang positif, itulah Zen yang sejati! Jika tujuannya untuk memanjakan fisik, mengumbar perasaan ( bahagia, marah, sedih, gembira, gundah, rindu & takut), serta menjadi budak dari hawa napsu ( makan, minum, sex, harta, popularitas, kekuasaan, & pamrih/egois ), itulah Zen yang negatif, Zen yang sesat, Zen yang palsu, Zen yang akan membawa kita menuju jurang kesengsaraan & penderitaan!
Atau jika mau lebih jelas & tegas lagi, Zen itu sebenarnya adalah : Jalan hidup! Ada sebuah pepatah yang mengatakan : Banyak jalan menuju Roma, jalan disini adalah jalan hidup, sedangkan Roma adalah tujuan, yaitu : kesempurnaan & kebahagiaan yang hakiki! Banyak ragam jalan hidup dalam kehidupan ini, setiap insan punya jati diri yang berbeda satu sama lain, yang akan saling mengisi & melengkapi, saling membutuhkan & dibutuhkan, jadi adalah menjadi tanggung jawab bagi kita, untuk melakukan pencarian jati diri, misalnya : jika ingin menolong umat manusia, jadilah rohaniawan, jika ingin mengabdi pada bangsa & negara, jadilah eksekutif, jika ingin menegakkan hukum, jadilah judikatif, jika ingin memperjuangkan nasib rakyat, jadilah legislatif, jika ingin membela bangsa & negara, jadilah prajurit, jika ingin mencerdaskan bangsa, jadilah guru, jika ingin menyembuhkan orang sakit, jadilah para medis, jika ingin menyediakan pangan bagi masyarakat, jadilah petani, jika ingin menyediakan barang bagi masyarakat, jadilah pedagang, jika ingin menghibur masyarakat, jadilah seniman, dst, setiap jalan hidup pasti ada rambu-rambu & etikanya, jika kita mampu memegang teguh rambu-rambu & etika, kita pasti akan selamat mencapai tujuan! Tetapi jika kita terperosok kedalam perangkap keserakahan hawa napsu, menjadikan kepuasan hawa napsu sebagai tujuan, serta pencapaian hawa napsu sebagai ukuran, maka kita akan terperosok kedalam jurang kesengsaraan & penderitaan, serta terjerumus masuk kedalam kobaran api neraka kehidupan!
Esensi dari rambu-rambu & etika jalan hidup adalah : pelayanan & pengabdian, jika kita secara konsisten mentaati rambu-rambu & etika, kita pasti akan sampai ketujuan dengan selamat, contoh yg paling aktual adalah: Bapak Gesang, komponis & penyanyi, Mbah Marijan, juru kunci gunung Merapi, kesetiaan mereka terhadap jalan hidupnya, tergambar dengan jelas dari keteguhan sikap mereka terhadap jalan hidup yang mereka pilih! Meski kehidupan mereka jauh dari kecukupan materi, gemerlapnya popularitas & kemilaunya materi, tidak membuat mereka silau, tetapi justru menjadi redup oleh keluguan, kesederhanaan, & kesetiaan mereka! Ditengah-tengah krisis ketauladanan bagi bangsa kita, sosok Bapak Gesang & Mbah Marijan bagai sebatang lilin yang menyala dengan terang ditengah gulita!
Tetapi jika pelayanan & pengabdian diukur dengan materi, maka yang muncul adalah carut-marut seperti yang sedang terjadi dalam kehidupan berbangsa & bernegara kita! Contoh kontroversial yang muncul belum lama ini adalah: Irawady Yoenus, anggota Komisi Yudisial, pengabdian selama 30 tahun tanpa cacat, hancur lebur dalam sesaat, karena ketidak mampuannya menahan keserakahan terhadap materi! Itulah hukum alam, batas yang terentang antara positif & negatif setipis serambut dibelah tujuh!
Metode Chan/Zen.
Metode latihan Zen sangat individual, berangkat dari kesadaran diri sendiri, dilandasi dengan falsafah percaya diri dan kemauan keras yang tidak tergoyahkan, serta dibekali dengan semangat yang tidak pernah redup! Zen adalah disiplin dalam praktek, dengan mempraktekkan Zen, berarti menegakkan disiplin diri, meletakkan nasib pada genggaman tangannya sendiri, kesuksesan & kegagalan sepenuhnya ditentukan oleh diri sendiri! Tidak ada rahasia, tidak ada teori, tidak ada cara instan, tidak ada jalan pintas, tidak bisa menipu, tidak bisa mencontek, tidak bisa membayar joki, kita harus melakukan sendiri, setapak demi setapak, melangkah dengan mantap, lugu & jujur, serta merasakan & mendapatkan pengalaman langsung dari penegakkan disiplin latihan Zen secara intuitif , dan mendapatkan pencerahan/satori!
Metode latihan Zen sangatlah sederhana, yaitu : pengulangan! Didalam praktek pengulangan pada insitusi Zen yang kita pilih, atau pada jalan hidup kita, yang pertama adalah membuka kesadaran tentang tujuan dari pengulangan tersebut, merasakan langsung efek-efek yang ditimbulkan akibat dari disiplin yang spartan dari proses pengulangan, seperti rasa sakit, capai/lelah, haus, lapar, malas, bosan, jenuh, labil, tidak sabar, brangasan, loyo dsbnya. Didalam praktek Zen, kita secara frontal dihadapkan pada diri sendiri, pada esensi-esensi negatif yang ada dalam diri kita, misalnya : esensi negatif dari fisik adalah manja, perasaan adalah bosan, hawa napsu adalah serakah, semangat adalah rendah, pekerti adalah malas, sedangkan moral adalah kotor!
Pada hakekatnya, mempraktekkan Zen adalah mengajarkan & mendidik diri kita untuk menguasai fisik, menahan perasaan, mengalahkan hawa napsu, mengendalikan pekerti, serta menjaga semangat, atau yang lazim disebut menempa mental! Dengan bersenjatakan falsafah Oshi shinobu/membelenggu kesabaran, atau menahan diri secara total, merubah perasaan & hawa napsu menjadi kekuatan, tiada henti untuk terus mencari, menembus dan menerobos batas-batas dari manja, bosan, serakah, malas dan lemah! Ketika kita menembus batas-batas tersebut diatas, kita memasuki kondisi “ tidak ada batas”, maka akan terjadi proses pembalikan, sisi negatif menjadi positif, sisi manja menjadi ulet, bosan menjadi setia, serakah menjadi nrimo, malas menjadi rajin, lemah menjadi kuat, dan kotor menjadi mulia!
Ketika kita memasuki kondisi tidak ada batas, kita berada dalam situasi : badan merasa, tetapi tidak terasa, mata melihat, tetapi tidak tampak, telinga mendengar, tetapi tidak ada suara, hidung mengendus, tetapi tidak ada bau, mulut mencecap. tetapi tidak ada rasa! Itulah yang disebut kondisi “ Lupa “! Lupa pada waktu, lupa pada fisik, lupa pada perasaan, lupa pada hawa napsu, lupa pada pekerti, serta lupa pada semangat! Pada hakekatnya, ketika kita memasuki kondisi lupa, kita telah berada dalam alam “ ku /hampa”, didalam alam hampa, kita menjadi “ mati rasa & mati raga “, serta berada dalam situasi tidak ada batas , tidak ada benar & salah, tidak ada menang & kalah! Kosong melompong, sepi & sunyi, hening & wening! Yang ada hanya kesalehan, yang ada hanya keluhuran, yang ada hanya ketentramanan, yang ada hanya kedamaian!
Ketika kita telah mengambil alih kendali atas fisik, perasaan, hawa napsu, pekerti, & semangat, ketika kita telah menembus batas dan memasuki kondisi “ tidak ada batas “, ketika kita telah “ lupa “ dan menjadi “ hampa “, teknik-teknik & ketrampilan-ketrampilan, roh & semangat jalan hidup, tanpa kita sadari, telah tertransformasi kedalam sel-sel tubuh & merasuk kedalam untaian DNA!
Pada hakekatnya, mempraktekkan Zen adalah melakukan pencarian jati diri, jati diri pada waktu kita dilahirkan, atau ketika masih bayi! Pada waktu itu, mata kita masih sangat bening, telinga kita masih sangat hening! Kita melihat, mendengar, & menerima segala sesuatu, seperti apa adanya tanpa terpapar oleh perasaan & hawa napsu! Serta tidak tercemar oleh pemikiran-pemikiran dari manapun, atau dari siapapun! Jika hitam dia akan mengatakan hitam, jika putih dia pasti akan mengatakan putih, jika senang dia akan tersenyum, jika sedih dia akan menangis, jika marah dia pasti akan berteriak, jika takut dia akan lari! Mata hati kita yang buta tertutup debu kehidupan, dan telinga nurani kita yang tuli tersumbat kotoran keduniawian, itulah yang harus kita cari, kita bersihkan dan kita temukan kembali!
Jadi kalau digambarkan, pencarian jati diri itu seperti membuat lingkaran, dari titik manapun kita mulai, kita pasti akan kembali ketitik awal! Atau kalau mau di analogkan, pencarian jati diri kita ibarat perjalanan hidup seekor ulat, dari telur menetas menjadi ulat berbulu yang menjijikkan, setelah melalui proses pertumbuhan, akhirnya ulat tsb mampu mengeluarkan sutera, untuk membungkus dirinya menjadi sebuah kepompong, setelah melalui fase tapa brata, jika ulat tersebut mampu menembus kepompong yang dia ciptakan sendiri, maka akan terjadi metamorfosis, ulat bulu yang menjijikan tersebut, akan berubah menjadi seekor kupu-kupu yang sangat elok! Demikian juga dengan manusia, selama perjalanan hidupnya, dia akan membalut dirinya dengan “ sutera-sutera “/ masalah-masalah yang dikeluarkan oleh fisiknya, perasaannya, hawa napsunya, & pekertinya, serta menjadi “ kepompong “, jika pada tahap akhir dia gagal menembusnya, maka dia akan mati & membusuk dalam kepompong yang dia buat sendiri , serta gagal dilahirkan kembali/metamorforsis menjadi seorang bayi yang suci tanpa noda!
Sampai kapan kita mempelajari Zen? Sampai kapan kita mempraktekkan Zen? Jawaban dalam bahasa Zen sangat sederhana : sepanjang napas kita! Didalam Zen, hanya ada awal tiada akhir, awal adalah akhir, akhir adalah awal! Didalam Zen tidak ada kebisingan, yang ada hanya keheningan, tidak ada kekacauan, yang ada hanya kedamaian, tidak ada kejahatan, yang ada hanya kebaikan, tidak ada kebatilan, yang ada hanya kesalehan, tidak ada angkara, yang ada hanya kebajikan! Jadi mengapa tidak kita praktekkan sepanjang hidup? “ Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading “, jika kita tidak bisa meninggalkan gading, seyogyanya kita tidak meninggalkan belang bagi anak cucu kita!
Zen & Budo ibarat sekeping mata uang yang tidak bisa dipisahkan, Zen adalah unsur afeksi ( moral & pekerti ), sedangkan Budo adalah unsur psycho motoric ( mental & semangat ), perpaduan kedua unsur jelas tidak bisa dibantah akan membentuk karakter dan menemukan kembali jati diri kita!
Harmoni.
Hukum alam mengatakan :“ Shun wo zhe sheng, ni wo zhe wang “, yang bisa menyesuaikan & mengikutiku akan hidup, sedangkan yang melawan & menentangku akan binasa! Inilah kebenaran yang sudah berlaku sejak jagat raya ini terbentuk! Hukum alam juga mengatakan : “ Wu ji bi fan “, segala sesuatu ( yang berada dalam alam ) jika terlalu extrem, pasti akan terbalik! Yang positif bisa menjadi negatif, sedangkan yang negatif bisa menjadi positif! Itulah hukum alam yang tidak terbantahkan!
Didalam kehidupan dialam semesta ini, tidak ada yang pasti, juga tidak ada yang abadi! Yang positif bisa manjadi negatif, yang menang bisa jadi kalah, yang sukses bisa jadi gagal, yang benar bisa jadi salah, sedangkan yang baikpun bisa jadi jahat! Itulah hukum alam!
Jadi bagaimana agar kita bisa menyesuaikan/mengikuti hukum alam? Para filsuf-filsuf Tiong Kok dulu telah memberikan solusinya, yaitu : He/harmoni/keseimbangan atau juga yang sering disebut sebagai : jalan tengah! Tidak diatas juga tidak dibawah, tidak kekiri juga tidak kekanan!
Harmoni atau jalan tengah, pada hakekatnya adalah : Jati diri kita, jati diri kita pada hakekatnya adalah : ku/hampa! Sebenarnya pada waktu pencapaian kehampaan, telah tercapai keseimbangan dalam diri kita, kita telah berada pada titik keseimbangan antara positif & negatif! Pada titik tsb, gemuruhnya ombak samudra perasaan menjadi bening, gelegarnya badai hawa napsu menjadi hening! Jadi jika kita tidak mau kalah, maka posisikan diri anda pada posisi tidak terkalahkan! Seperti ajaran para nenek moyang kita, sugih tanpo bondo, ngluruk tanpo bolo, menang tanpo ngasor ake, ngeli ning ora keli! Kaya tanpa harta, menyerang tanpa pasukan, menang tanpa mengalahkan, mengikuti arus tapi tidak terbawa arus! Itulah ajaran jalan tengah, itulah ajaran harmoni!
Sesuai dengan hukum alam, segala sesuatu yang ada dimuka bumi ini, ketika telah mencapai harmoni, akan menghasilkan kekuatan yang baru, dan akan melahirkan kehidupan! Seperti unsur positif & negatif, ketika tercapai keseimbangan, akan menghasilkan energi listrik, demikian juga dengan unsur Yin & Yang, ketika terjadi harmoni, akan melahirkan kehidupan yang baru! Demikian juga yang terjadi pada diri kita, ketika kita mencapai tataran harmoni, maka kita akan dilahirkan kembali!
Untuk mengatasi ketidak pastian & ketidak abadian hukum alam, para filsuf –filsuf Tiong Kok memberikan dua kata kunci, yaitu : Dong/gerak, & Bian/berubah! Seperti alam yang tidak pernah berhenti bergerak & berubah, serta didalam gerak & perubahan, tiada henti mencari & mencapai keseimbangan! Jika alam berada dalam gerak & perubahan, kehidupan kita sebenarnya juga berada dalam gerak & perubahan, jika alam berhenti bergerak & berubah, maka akan terjadi kiamat, demikian juga dengan kita, jika kita berhenti bergerak & berubah, maka kita akan binasa! Itulah yang dinamakan : dinamika! Seperti orang yang naik sepeda, ketika dia menaiki sepedanya, jalannya pasti oleng, setelah dia bergerak maju, barulah dia mencapai keseimbangan, jika dia tidak ingin jatuh, dia harus bergerak maju, ketika jalan naik, dia harus menambah tenaga untuk mengayuh, ketika jalan turun, dia harus memasang rem dan mengurangi kecepatannya, agar tidak terpelanting kedasar jurang! Demikian juga jika terjadi goncangan, akibat masuk lobang atau menabrak batu, maka dia harus tetap memelihara keseimbangan, sebab jika berhenti, maka dia akan terpental dari sepedanya!
Didalam harmoni ada dinamika, didalam dinamika ada harmoni, itu adalah inti dari ajaran Zen! Ajaran Zen berbasic pada alam, jadi kita harus bisa bersikap seperti sifat alam, yaitu : Maha bijak karena bisa menerima perbedaan, Maha arif karena bisa menyesuaikan perubahan, Maha asih karena bisa mengayomi keberagaman,dan Maha besar karena bisa menghargai pluralitas! Didalam ajaran Zen, Sang pencipta alam semesta disebut : Dao, dao juga disebut sebagai : Maha Esa & Maha Agung! Dan yang disebut sebagai Maha Esa & Maha Agung itu adalah : Tuhan Allah!
Rangkuman.
Jika kita melihat dunia pendidikan kita, sejak jaman orde baru 40 tahun yang lalu, telah terjadi pengingkaran terhadap harkat & nilai-nilai pendidikan, pemerintah yang berkuasa saat itu, secara sistematis menyingkirkan pendidikan psycho motoric & afeksi, atau menafikkan character building dari kurikulum pendidikan, serta menjadikan unsur kognisi sebagai kurikulum utama dan standar pendidikan nasional! Selain itu, pemerintah juga menjadikan ijasah & diploma, sebagai persyaratan mutlak dalam sistim pemerintahan, akibatnya masyarakat menjadikan ijasah & diploma sebagai berhala yang disembah, dan dianggap sebagai jaminan sukses bagi masa depan, serta berebut untuk memasukkan putera-puterinya, kesekolah-sekolah dan perguruan-perguruan tinggi, baik swasta maupun negeri “ favorit “, tanpa mengindahkan bakat, talenta & animo sang anak! Akhirnya pendidikan yang seharusnya bisa membekali dan mencerahkan anak didiknya, malah menjadi lembaga setempel dan legalisir ijasah & diploma!
Setelah reformasi, dunia pendidikan kita malah menjadi semakin runyam, petinggi-petinggi pendidikan kita, tidak melakukan reformasi, malah mewarisi, mengembangkan & melembagakan metode pendidikan yang terbukti sesat dari rezim orde baru! Insitusi pendidikan yang seharusnya mengemban misi yang luhur untuk memerangi kebodohan, kemiskinan & korupsi, malah menjadi lembaga pembodohan, dan melestarikan kemiskinan, serta membudayakan korupsi! Pendidikan yang seharusnya menjadi hak dari seluruh anak bangsa tanpa kecuali, malah berkembang menjadi perusahaan-perusahaan pemburu rente dan meminggirkan mereka yang miskin! Pendidikan yang seharusnya bisa mengekplorasi bakat-bakat anak didiknya, justru malah mematikan talenta & bakat mereka! Pendidikan yang seharusnya mencerdaskan anak bangsa dengan kecerdasan yang plural, malah dijadikan mesin foto copy, yang menghasilkan produk sdm dengan kecerdasan tunggal! Pendidikan yang seharusnya menumbuh kembangkan inovasi & kreatifitas anak didiknya, malah digantikan dengan metode text book thinking! Pendidikan yang seharusnya berpijak pada sistem praksis ( praktek, refleksi & komtemplasi ), malah dijadikan pendidikan yang teoritis, statis & dogmatis! Pendidikan yang seharusnya menciptakan sdm yang memiliki jiwa wiraswasta/entrepreneur, malah menghasilkan sdm pencari kerja yang rendah skillnya, tidak memiliki roh ( mental & semangat ), tidak memiliki hati ( pekerti & moral ), dan buruk karakternya! Alhasil ketika “ produk-produk “ tsb berkuasa, kita langsung merasakan dampaknya, negara kita makin terpuruk & sejajar dengan negara-negara terbelakang dari Afrika, baik dari segi kebodohan, kemiskinan, maupun korupsi! Tak pelak lagi, kebodohan, kemiskinan & korupsi, malah makin merasuk kesendi-sendi kehidupan berbangsa & bernegara, ibarat penyakit kanker tahap akhir, menyebar keseluruh organ tubuh, secara perlahan tetapi pasti, sedang membunuh & menghancurkan bangsa ini! Bangsa yang dulu terkenal sebagai bangsa yang cerdas & piawai, ramah tamah, sopan & santun, halus budi pekertinya, serta adi luhung budayanya, sekarang telah berubah menjadi bangsa yang miskin & bodoh, kasar & pemarah, tidak mau mengalah, menangnya sendiri, benarnya sendiri, bahkan anarkisme & kekerasan telah menjadi bagian dari bangsa ini! Selain itu, yang lebih memprihatinkan adalah , hilangnya esensi kemanusiaan yang paling dasar, yaitu : malu! Para pelaku kriminal dan koruptor, sudah tidak lagi memiliki rasa malu dengan apa yang mereka lakukan, malah dengan bangga memamerkan hasil kejahatannya!
Alhasil bangsa Indonesia didalam percaturan bangsa-bangsa didunia, terkenal sebagai bangsa yang miskin & korup! Selain itu, di Asia & Asia tenggara maupun di Timur tengah, terkenal sebagai bangsa dengan sdm kelas rendah, atau yang biasa disebut sebagai babu & kuli ( maaf )! Bahkan di negara jiran Malaysia, tki kita diberi label “ pendatang haram “, ditipu, dianiaya, dan diperbudak, bahkan setiap saat bisa digaruk oleh pasukan rela, digebuki, dihukum cambuk, dipenjara & diusir! Sungguh-sungguh sangat tragis & ironis, sangat getir & memilukan!
Sebagai salah satu bangsa yang besar didunia, baik dari sisi luas wilayah, jumlah penduduk, serta kebesaran budaya maupun sejarahnya, sebagai bangsa yang sudah merdeka 62 tahun, sebagai bangsa yang memiliki sumber daya alam yang sangat melimpah ruah, karena meremehkan pendidikan untuk bangsanya, menjadi bangsa miskin yang direndahkan baik harkat maupun martabatnya!
Sebenarnya masalah yang paling utama pada dunia pendidikan kita adalah : kita tidak pernah memiliki blue print atau grand design pendidikan, setiap ganti Presiden selalu tidak nyambung, setiap ganti Menteri selalu berganti program, percobaan demi percobaan yang tidak jelas ujung pangkalnya dipaksakan ( pangkalnya duit! ), akhirnya malah mengaburkan patron pendidikan kita, serta mengorbankan anak-anak kita!
Kita semua harus menyadari, bahwa kemajuan ekonomi suatu negara, berbanding lurus dengan kemajuan pendidikan! Tidak usah jauh-jauh mencari contoh, Malaysia yang pada dekade tahun 70 an, mengirimkan guru-guru & murid-murid ke Indonesia untuk belajar, dalam waktu yang singkat telah berhasil melampaui sang guru, menjadi negara yang paling stabil politik & ekonominya di Asean! Bahkan Petronas, perusahaan minyak negara jiran, yang tidak memiliki sumber daya minyak, yang menjadikan Pertamina sebagai patronnya, kini telah berkembang menjadi perusahaan minyak raksasa didunia!
Melalui tulisan ini, saya menyerukan pada seluruh insan yang masih mau peduli pada pendidikan dan nasib bangsa ini, agar terus melanjutkan perjuangan dibidangnya masing-masing! Melalui tulisan ini, saya menghimbau para ahli-ahli pendidikan kita, untuk segera merancang kembali grand design & blue print pendidikan kita! Melalui tulisan ini saya mencoba untuk menggugah kesadaran para petinggi-petinggi pendidikan kita, agar segera menghentikan proyek-proyek percobaan pendidikan, yang ternyata selain membodohkan dan memiskinkan bangsa ini, juga malah melanggengkan budaya korupsi! Melalui tulisan ini, saya mencoba untuk menggedor pintu hati nurani insan-insan yang berkecimpung didunia pendidikan, agar segera kembali kejalan yang benar, serta mengembalikan pendidikan pada harkatnya yang luhur!
Ketika arus globalisasi sudah berhembus keseluruh penjuru dunia, ketika seluruh bangsa didunia ini sedang sibuk berbenah & menyiapkan diri, jika kita tetap tidak mau bergerak & berubah, maka tak pelak lagi, bangsa ini pasti menjadi bangsa babu & kuli! Jika kita tidak ingin menjadi bangsa yang terkalahkan & terpinggirkan, kita harus mulai dari pendidikan, pendidikan yang holistic, pendidikan yang menyatukan unsur kognisi, afeksi & psycho motori ( character building ), saya percaya ( telah terbukti!), bahwa perpaduan metode Bun, Bu dan Zen, akan melahir pemimpin-pemimpin yang memiliki karakter bersih & kuat, yang mampu meminpin bangsa ini, untuk mengexplorasi serta memberdayakan seluruh potensi yang ada pada bangsa ini, termasuk sumber daya alamnya yang melimpah ruah, untuk memakmurkan & mensejahterakan bangsa ini! Seperti yang dilakukan oleh Joaquim Chissano, Presiden Mozambik di Afrika, sejak tahun 1986-2004, berhasil memimpin negara dan rakyatnya, keluar dari kemiskinan dan perang saudara, menjadi negara yang stabil, moderen dan demokratis! Seperti yang juga dilakukan oleh Nestor Kirchmer, Presiden Argentina di Amerika latin, yang terpilih menjadi Presiden pada tahun 2003, dan berhasil membawa keluar Argentina dari krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 2001! Juga sosok Presiden Rusia Vladimir Putin, selama kepemimpinannya berhasil menstabilkan sosial, politik, ekonomi, dan militer Rusia yang hancur akibat runtuhnya Uni Soviet, serta membayar hutang Rusia sebesar 30 milyar US dollar secara kontan pada IMF! Saya juga yakin bin hakul yakin, jika para pemimpin kita tidak menjadikan pengabdian sebagai ajang perburuan kekuasaan, tidak menjadikan perjuangan sebagai panggung popularitas, serta tidak menjadikan pengorbanan sebagai lahan untuk memperkaya diri, dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun, bangsa Indonesia akan bisa menegakkan kepalanya dan berbicara lantang, didalam percaturan bangsa-bangsa didunia, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, serta tumbuh kembang menjadi negara super power yang dihormati & disegani! Semoga!
Prambanan 28 Oktober 2007.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar